Ciamis Jejak kriminal.net, — Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Sukahaji, Kecamatan Cihaurbeti, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, kembali disorot. Lembaga usaha milik desa tersebut tercatat berulang kali menerima kucuran penyertaan modal dari Dana Desa, namun efektivitas dan kontribusinya bagi pendapatan desa masih dipertanyakan.
Berdasarkan catatan pengelolaan anggaran, BUMDes Sukahaji sebelumnya pernah menerima penyertaan modal sekitar Rp150 juta. Anggaran tersebut dialokasikan untuk unit usaha warung hingga simpan pinjam. Namun, seluruh unit usaha tersebut berakhir bangkrut.
Kini, kucuran dana segar kembali mengalir. Pada anggaran tahun 2025, BUMDes Sukahaji menerima alokasi program ketahanan pangan sebesar 20 persen dari Dana Desa, dengan nilai mencapai lebih dari Rp200 juta.
Kepala Desa Sukahaji, Aud Sunarya, membenarkan adanya kucuran modal baru tersebut saat ditemui di kantornya, Selasa (1/9/2026). Ia menyebutkan bahwa alokasi modal saat ini ditujukan untuk pengelolaan usaha ayam petelur.
Meski demikian, Aud mengakui belum ada kontribusi nyata bagi desa.
"Memang penyertaan modal ke BUMDes bukan pertama kali. Dulu pernah ada sekitar Rp150 juta untuk warung dan simpan pinjam, tapi semuanya gulung tikar. Untuk yang sekarang (tahun 2025), BUMDes mengelola ayam petelur, namun belum ada kontribusi Pendapatan Asli Desa (PADes) ke desa," ujar Aud.
Penjelasan Direktur BUMDes
Dikonfirmasi secara terpisah pada Rabu (2/9/2026), Direktur BUMDes Sukahaji, Wendi, menjelaskan bahwa total anggaran ketahanan pangan yang dikelolanya mencapai Rp260 juta. Dana tersebut dibagi ke dalam dua bidang usaha: budi daya ikan dan ayam petelur.
Budi Daya Ikan, Sudah menyelesaikan satu kali masa panen.buntuk Ayam Petelur, Berada di kandang sebanyak 600 ekor dari target belanja 1.000 ekor secara bertahap.
Menanggapi sorotan terkait belum adanya kontribusi PADes, Wendi berdalih hal itu disebabkan oleh masa operasional yang masih baru.
"Usaha ini belum genap berjalan satu tahun, jadi belum bisa menghasilkan PADes," kata Wendi. Ia juga menambahkan bahwa pada kepengurusan terdahulu, BUMDes sempat menjalankan usaha jual beli gas 3 kg.
Berulangnya suntikan modal yang dibayangi rekam jejak kegagalan masa lalu memicu kekhawatiran warga. Masyarakat berharap penyertaan modal ratusan juta rupiah tersebut tidak sekadar menjadi angka di atas kertas atau habis tanpa bekas.
Warga menuntut transparansi pengelolaan agar hasil usaha BUMDes benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas serta mampu menyumbang PADes secara nyata.


.png)



Posting Komentar untuk "Akankah BUMDes Sukahaji Kembali Gulung Tikar?"