Stabilitas yang dipaksakan adalah ilusi paling berbahaya dalam sejarah kekuasaan, Faisal Sanjaya Praktisi Relawan Jokowi ,(Bara JP)


Jakarta,05 Oktober 2026


www.jejakkriminal.nett


 _PARADOKS HEGEMONI PRABOWO: Politik Akomodatif Yang Melahirkan Subaltern Baru Menuju 2028_


Oleh: Faisol Sanjaya - Praktisi Relawan Jokowi, Dewan Pengawas BaraJP (Barisan Relawan Jokowi Presiden - Barisan Relawan Jalan Perubahan)


Stabilitas yang dipaksakan adalah ilusi paling berbahaya dalam sejarah kekuasaan.


Hari ini kita menyaksikan sebuah ambisi hegemoni total. Presiden Prabowo Subianto sedang membangun sebuah istana tanpa oposisi. Semua dirangkul, semua dipeluk, semua mantan musuh ideologis yang dulu memaki di jalanan kini diberi karpet merah dan kursi empuk di dalam kabinet. Atas nama persatuan, sejarah permusuhan Pilpres 2024 hendak dihapus paksa.


Ini bukan rekonsiliasi. Ini adalah _politik akomodasi transaksional._


Dalam kacamata Antonio Gramsci, inilah yang disebut upaya membangun _Blok Historis_ yang palsu. Sebuah hegemoni yang dibangun bukan dari konsensus moral dan kepemimpinan intelektual di akar rumput, melainkan dari kompromi elite di atas meja kekuasaan.


Dan disinilah paradoksnya meledak.


Ketika kue kekuasaan harus dibagi kepada mereka yang baru datang, siapa yang dikorbankan? _Kita._ Barisan relawan yang berdarah-darah, yang menjaga TPS hingga subuh, yang dihina buzzer, yang berjalan kaki dari gang ke gang. Faksi loyalis awal, kader ideologis yang memegang teguh janji perubahan.


Kami yang secara formal ada di dalam gerbong kekuasaan, tapi secara substantif kami sedang _disingkirkan._


Inilah lahirnya _SUBALTERN BARU_ - meminjam istilah Gayatri Spivak. Kaum subaltern bukan lagi mereka yang di luar kekuasaan. Subaltern baru adalah kami yang ada DI DALAM, tapi suara kami dibungkam. Kami ada, tapi tidak didengar. Kami berjuang, tapi tidak dianggap. Kami adalah _the silenced majority_ di dalam istana yang gaduh oleh kompromi.


Hegemoni yang melupakan basisnya adalah hegemoni yang sedang menggali kuburnya sendiri.


Tahun 2028 bukan tahun konsolidasi. 2028 adalah tahun _krisis legitimasi._ Ketika relawan garis keras, aktivis akar rumput, dan faksi partai pendukung awal yang merasa dikhianati memutuskan untuk tidak lagi tunduk. Loyalitas buta telah mati. Yang tersisa adalah kekecewaan yang terorganisir.


Hukum besi kekuasaan berlaku: Ketika batas kawan dan lawan dilebur demi stabilitas semu, maka musuh yang paling berbahaya tidak datang dari luar, ia lahir dari rahim kekecewaan di dalam.


Jangan pernah mengira akar rumput akan diam selamanya. Sejarah membuktikan, hegemoni paling kokoh sekalipun akan runtuh bukan karena serangan oposisi, tapi karena _pengkhianatan yang dirasakan oleh penjaganya sendiri._


2028 adalah alarm. Jika Istana terus memelihara politik akomodatif tanpa keadilan distributif bagi loyalisnya, maka subaltern baru ini tidak akan lagi meminta panggung. Kami akan merebutnya kembali.


_Karena Jalan Perubahan tidak pernah berhenti di Istana. Jalan Perubahan kembali ke rakyat._


---

Posting Komentar untuk "Stabilitas yang dipaksakan adalah ilusi paling berbahaya dalam sejarah kekuasaan, Faisal Sanjaya Praktisi Relawan Jokowi ,(Bara JP)"


Ads :