Jejak Kriminal Net-
Palembang - Bullying verbal masih marak terjadi di lingkungan pendidikan. Ejekan, hinaan, hingga penyebaran rumor lewat kata-kata dan media sosial membuat banyak siswa dan mahasiswa merasa malu, minder, hingga kehilangan semangat belajar.
Bullying verbal adalah tindakan menyakiti orang lain melalui ucapan. Bentuknya beragam, mulai dari pemberian julukan, mengejek penampilan dan kemampuan akademik, mengancam, mempermalukan di depan umum, sampai menyebarkan rumor.
Menurut pengamat pendidikan, dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Korban bisa menjadi tertutup, sulit berinteraksi, tidak fokus belajar, bahkan takut datang ke sekolah.
"Banyak yang menganggap ejekan itu candaan. Padahal kalau dilakukan terus-menerus, korban bisa kehilangan kepercayaan diri dan menarik diri dari lingkungan," ujar [Nama Guru BK/Psikolog], Jumat (22/8/2026).
Faktor penyebabnya antara lain kurangnya pemahaman tentang dampak perkataan, pengaruh teman sebaya, dan minimnya edukasi tentang saling menghargai di sekolah maupun kampus.
Untuk mencegahnya, pihak sekolah dan kampus didorong aktif memberikan edukasi. Orang tua, guru, dan teman sebaya juga diminta berperan memberi dukungan dan menjadi tempat aman bagi korban untuk melapor.
"Siswa perlu berani bersuara. Kalau melihat teman diejek, jangan ikut menertawakan. Lebih baik laporkan ke guru atau pihak yang berwenang," tambahnya.
Lingkungan pendidikan diharapkan menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menghargai perbedaan agar kasus bullying verbal tidak terus berulang.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat perundungan verbal termasuk jenis bullying yang paling banyak dilaporkan. Karena itu, kesadaran bersama untuk menjaga ucapan dinilai menjadi kunci utama pencegahan.
(HR)
.png)



Posting Komentar untuk "Bullying Verbal di Sekolah Dan Kampus Picu Korban Minder Dan Takut Belajar"