Pekerjaan P3-TGAI di Desa Dawungsari Disorot: Pekerja Diduga Tanpa APD, Konstruksi Dipertanyakan


 GARUT — Jejak Kriminal.net – Pelaksanaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) di Daerah Irigasi (D.I.) Cipeujeh, Desa Dawungsari, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, menuai sorotan.

Program yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan nilai Rp195 juta tersebut dilaksanakan oleh P3A Tani Mandiri Ciseda. Namun, hasil peninjauan di lapangan menemukan sejumlah hal yang dinilai perlu mendapat perhatian dan penjelasan dari pihak pelaksana maupun instansi yang melakukan pengawasan.

Tim Jejak Kriminal.net melakukan peninjauan ke lokasi pekerjaan pada Rabu (5/8/2026). Di lokasi terlihat papan informasi proyek serta papan yang memuat kewajiban penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).

Ironisnya, berdasarkan pantauan tim, para pekerja yang berada di lokasi diduga tidak menggunakan APD secara lengkap, seperti helm keselamatan, rompi kerja, maupun sepatu bot.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana penerapan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam pelaksanaan pekerjaan yang menggunakan anggaran negara tersebut.

Bukan Bangunan Baru? Kondisi Fisik Pekerjaan Jadi Sorotan

Tak hanya persoalan K3, kondisi fisik pekerjaan juga menjadi perhatian.

Dari hasil pengamatan di sejumlah titik, pekerjaan saluran irigasi tersebut diduga lebih banyak berupa perbaikan atau rehabilitasi terhadap bangunan lama, bukan pembangunan baru secara menyeluruh sebagaimana yang dipahami dari pelaksanaan peningkatan jaringan irigasi.



Dugaan tersebut semakin mengemuka setelah tim melihat bagian saluran yang masih memperlihatkan struktur bangunan lama.

Seorang warga yang berada di sekitar lokasi juga menyampaikan keterangannya kepada tim.

“Iya Pak, betul itu bangunan yang dulu, cuma diperbaiki saja,” ujar warga tersebut.

Namun demikian, keterangan warga tersebut masih perlu dikonfirmasi kepada pihak pelaksana maupun pihak yang memiliki kewenangan teknis untuk memastikan apakah pekerjaan yang dilakukan memang telah sesuai dengan desain, Rencana Anggaran Biaya (RAB), volume, serta spesifikasi teknis program.

Pondasi Saluran Diduga Tanpa Penggalian yang Memadai Sorotan berikutnya berkaitan dengan proses pengerjaan pondasi saluran.


Tim menemukan sejumlah titik yang secara visual diduga tidak memperlihatkan proses penggalian pondasi sebagaimana mestinya sebelum pekerjaan konstruksi dilaksanakan.

Secara prinsip teknis, pekerjaan pondasi saluran irigasi perlu mengikuti desain dan elevasi yang telah ditentukan. Persiapan dasar galian, pemadatan, dimensi pondasi, kemiringan saluran hingga elevasi akhir menjadi bagian penting agar fungsi saluran dapat berjalan sesuai perencanaan.

Apabila tahapan tersebut tidak dilaksanakan sesuai spesifikasi, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas dan fungsi bangunan irigasi.


Karena itu, persoalan utama yang perlu dijawab bukan sekadar apakah bangunan terlihat selesai, melainkan apakah volume, mutu material, dimensi, elevasi, metode pelaksanaan, serta hasil akhir pekerjaan benar-benar sesuai dengan dokumen perencanaan dan ketentuan teknis P3-TGAI.

Rp195 Juta Uang Negara, Pengawasan Dipertanyakan

Nilai anggaran sebesar Rp195.000.000 membuat pekerjaan tersebut patut mendapatkan perhatian publik.

Masyarakat tentu berhak mengetahui apakah anggaran yang bersumber dari APBN tersebut telah digunakan secara efektif dan menghasilkan infrastruktur irigasi yang benar-benar memberikan manfaat bagi petani.

Temuan mengenai penggunaan APD dan dugaan ketidaksesuaian metode maupun kondisi pekerjaan juga memunculkan pertanyaan mengenai fungsi pengawasan dan pendampingan selama proyek berlangsung.

Apakah pekerjaan tersebut telah diperiksa secara berkala?

Apakah volume dan spesifikasi pekerjaan telah diverifikasi?

Dan apakah kondisi bangunan lama yang diperbaiki memang sesuai dengan lingkup pekerjaan yang tercantum dalam dokumen program?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab secara terbuka agar tidak menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat.

P3-TGAI Harus Tepat Sasaran dan Berkualitas

Program P3-TGAI pada prinsipnya ditujukan untuk mendukung peningkatan fungsi jaringan irigasi serta memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya petani.

Karena menggunakan anggaran negara, pelaksanaannya semestinya mengedepankan prinsip transparansi, akuntabilitas, kualitas pekerjaan, keselamatan kerja, dan kesesuaian terhadap ketentuan teknis.

Jika ditemukan indikasi ketidaksesuaian, maka klarifikasi dan pemeriksaan teknis menjadi penting dilakukan untuk memastikan apakah temuan di lapangan merupakan persoalan administratif, teknis, perubahan pekerjaan yang sah, atau justru terdapat penyimpangan dari perencanaan.

Menunggu Klarifikasi Pihak Pelaksana

Hingga berita ini diterbitkan, P3A Tani Mandiri Ciseda, pendamping program, maupun instansi terkait belum memberikan keterangan resmi mengenai sejumlah temuan tersebut.

Jejak Kriminal.net membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada seluruh pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan.

Media ini juga akan terus melakukan penelusuran dan konfirmasi untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap, termasuk mengenai RAB, volume pekerjaan, spesifikasi teknis, progres pekerjaan, serta mekanisme pengawasan terhadap penggunaan anggaran Rp195 juta tersebut.

Publik tentu berharap program yang menggunakan uang negara tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga sesuai perencanaan, berkualitas, aman bagi pekerja, dan benar-benar meberikan manfaat bagi masyarakat.


( A.DINATA KABIRO GARUT )

Posting Komentar untuk "Pekerjaan P3-TGAI di Desa Dawungsari Disorot: Pekerja Diduga Tanpa APD, Konstruksi Dipertanyakan"


Ads :