Penggelontoran dana yang bersumber dari anggaran desa tersebut dilakukan secara bertahap sejak tahun 2018 hingga 2025.
Kepala Desa Cihaurbeuti, Ulo Saefulloh, membenarkan besarnya alokasi anggaran tersebut saat ditemui di ruang kerjanya.
Menurut Uloh, kendati kucuran modal terus dialokasikan termasuk alokasi 20 persen Dana Desa tahun 2025 untuk program ketahanan pangan senilai lebih dari Rp200 juta unit usaha BUMDes hingga kini belum berjalan optimal.
"Memang ada beberapa kali penyertaan modal ke BUMDes, tetapi usahanya belum menghasilkan pendapatan secara optimal. Bahkan ada unit usaha yang stagnan dan gulung tikar," ujar Ulo.
Ia menambahkan, berdasarkan laporan dari Direktur BUMDes, penggunaan dana ketahanan pangan tahun 2025 sejauh ini masih berkutat pada biaya operasional dan pembelian pakan, sehingga belum memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes).
Ulo juga menilai dinamika BUMDes yang tidak optimal ini tidak hanya terjadi di desanya.
"Saya rasa bukan hanya di Desa Cihaurbeuti saja BUMDes yang berjalan tidak optimal, tetapi di hampir semua desa yang ada di Kecamatan Cihaurbeuti," tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Direktur BUMDes Cihaurbeuti, Ad Koes Syamsudin, memberikan klarifikasi saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon WhatsApp. Ia menjelaskan bahwa alokasi modal ketahanan pangan tahun 2025 diperuntukkan bagi budidaya ayam petelur sebanyak 800 ekor.
"Penyertaan modal untuk ketahanan pangan kami peruntukkan bagi budidaya ayam petelur. Hasilnya memang belum maksimal karena produksi telur sedang menurun, sementara harga pakan tinggi," terang Ad Koes.
Kondisi ini memicu perhatian dari warga Desa Cihaurbeuti. Masyarakat berharap tata kelola penyertaan modal BUMDes dapat dievaluasi secara transparan agar dana ratusan juta rupiah tersebut tidak menguap tanpa hasil, serta benar benar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat luas.



.png)



Posting Komentar untuk "Disinyalir Penyertaan Modal BUMDes Cihaurbeuti Tembus Rp800 Juta, Hasil Nihil?"