Dinkes Pesisir Barat Perkuat Penanganan Stunting, 27 Kasus Masih Jadi Perhatian


Pesibar, jejakkriminal.net-

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pesisir Barat (Pesbar) terus memperkuat upaya penanganan stunting melalui berbagai intervensi yang menyasar langsung bayi dan balita, mulai dari pemantauan tumbuh kembang, pemberian makanan tambahan (PMT) berbahan pangan lokal, pelayanan medis, hingga pendampingan keluarga.


Dari jumlah awal 63 kasus berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), saat ini masih terdapat 27 kasus yang menjadi perhatian untuk ditangani secara berkelanjutan.


Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pesbar, Septono, S.KM., M.M., melalui Kepala Bidang Kesehatan Masy arakat, Yurna Betty, S.ST., M.M., mengatakan bahwa penanganan stunting membutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan faktor penye bab pada setiap anak.


Sebab, tidak semua kasus berkaitan dengan persoalan pemenuhan asupan gizi, tetapi juga dapat dipengaruhi penyakit penyerta maupun kondisi medis tertentu yang membutuhkan penanganan khusus.


"Sekarang masih ada 27 kasus lagi dari jumlah awal 63 kasus berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), dengan angka 19,8 persen," kata Yuma Betty, Rabu, 14 Oktober 2026.


Dijelaskannya, sejumlah faktor yang ditemukan pada kasus stunting di Pesbar di antaranya penyakit bawaan lahir, seperti sindrom Down (Down syndrome) dan cerebral palsy, penyakit tuberkulosis (TB), serta riwayat bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).


Kondisi tersebut membuat penanganan perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui pemberian makanan bergizi, tetapi juga pemeriksaan kesehatan, pemantauan perkembangan anak, dan rujukan medis sesuai indikasi.


Menurutnya, pemantauan pertumbuhan dan per kembangan bayi serta balita melalui posyandu menjadi salah satu langkah penting untuk mengetahui kondisi anak sejak dini.


Tenaga kesehatan bersama kader posyandu juga melakukan pelacakan terhadap anak yang berisiko mengalami stunting, termasuk dengan mendatangi rumah keluarga sasaran untuk melihat kondisi anak sekaligus membe rikan pendampingan secara langsung.


"Pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita terus dilakukan melalui posyandu. Kami juga melakukan pelacakan kasus berisiko stunting melalui posyandu dan kunjungan rumah," jelasnya.


Selain pemantauan rutin, kata dia, Dinkes Pesbar memastikan anak yang membutuhkan penanganan medis memperoleh pelayanan sesuai kondisi kesehatannya.


Apabila diperlukan, anak akan dirujuk kepada dokter spesialis anak di RSUD KII Muhammad Thohir. Untuk kasus yang membutuhkan pemeriksaan maupun penanganan lebih lanjut, rujukan dapat dilanjutkan ke rumah sakit lain sesuai indikasi medis.


"Dari sisi pemenuhan gizi, intervensi dilakukan melalui pemberian PMT berbahan pangan lokal kepada sasaran kasus gizi," katanya.


Dijelaskannya bahwa program tersebut diharapkan membantu memenuhi kebutuhan asupan anak, dengan tetap mempertimbangkan kondisi kesehatan, kebutuhan gizi, serta pendampingan tenaga kesehatan agar pemberian makanan tambahan dapat mendukung upaya perbaikan status gizi.


la menegaskan, keberhasilan penanganan stunting juga sangat bergantung pada keterlibatan keluarga, teru tama orang tua dalam menerapkan pola asuh yang tepat, menyediakan makanan bergizi, serta membawa anak ke posyandu untuk menjalani pemantauan pertumbuhan secara berkala.


"Kami juga memberikan edukasi kepada keluarga balita terkait gizi dan pola asuh, serta berkoordinasi dengan lintas sektor untuk mendukung penanganan kasus stunting yang memiliki faktor penyebab lain," ungkapnya.


Masih kata dia, koordinasi lintas sektor tersebut melibatkan peratin, Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK), serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.


Sinergi ini diperlukan untuk memperkuat pendampingan keluarga, meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pencegahan stunting, serta membantu memastikan kebutuhan anak dapat ditangani sesuai kondisi masing-masing.


Melalui berbagai intervensi tersebut, Dinkes Pesbar berharap penanganan terhadap 27 kasus yang masih tersisa dapat semakin optimal.


"Selain itu juga upaya pencegahan juga terus diperkuat melalui deteksi dini, pemantauan rutin di posyandu, pemenuhan kebutuhan gizi, dan peningkatan kesadaran orang tua terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan anak," pungkasnya. 


HENDRI DUNAN

Posting Komentar untuk "Dinkes Pesisir Barat Perkuat Penanganan Stunting, 27 Kasus Masih Jadi Perhatian"


Ads :