Probolinggo, jejakkriminal.net - Menyambut datangnya bulan Muharram atau bulan Suro, masyarakat di kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo kembali menggelar tradisi dan ritual tahunan. Kegiatan ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus ikhtiar batin.
Titik pelaksanaan tradisi Suro yang kental dengan nuansa spiritual itu berada di komplek perumahan SAMSE di desa Dringu kecamatan Dringu kabupaten Probolinggo.
Berbagai gelaran mengisi rangkaian acara, mulai dari doa bersama, santunan anak yatim dan Duafa, drumband, hingga pertunjukan seni budaya lokal seperti reog dan lain-lain.
Ritual bulan Suro yang diselenggarakan oleh Samse warga desa Dringu tersebut merupakan tradisi tahunan dan sudah berlangsung selama 10 tahun setiap tanggal 10 Muharram.
Kegiatan ini secara filosofis berakar dari tradisi menyambut tahun baru Islam atau 1 Muharram (1 Suro dalam penanggalan Jawa) sebagai bentuk rasa syukur dan muhasabah. Masyarakat Jawa percaya bahwa bulan ini adalah momentum yang sakral .
Samse Tuan rumah pelaksana kegiatan menyampaikan, kegiatan ini sebagai bentuk syukur kehadirat Tuhan yang maha esa, yang sekaligus merawat budaya warisan leluhur.
" Tujuan kegiatan ini sebagai bentuk rasa syukur kehadirat Tuhan yang maha esa sekaligus merawat warisan budaya leluhur , dan ini dilakukan setiap 10 Muharram, dan alhamdulillah sudah berjalan 10 tahun".
"Kami menyadari tidak semua keluarga punya kesempatan yang sama, melalui acara ini kami mengundang para fakir, anak yatim piatu, hingga janda -janda tua untuk berkumpul berbagi kebahagian" jelas Samse, Juma'at 26/6.
Ketua komisi 2 DPRD kabupaten Probolinggo Reno Handoyo turut hadir di puncak acara, Jum'at 26/6/2026. Menurut politikus Partai Gerindra itu, ritual bulan Suro ini sarat akan makna budaya dan memiliki tujuan khusus.
" Saya sangat mengapresiasi sekali kepada saudara Samse, memberi santunan anak yatim, para fakir, dan janda -janda tua, hingga mendatang kan berbagai pentas kesenian, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan semua itu belaiu tanggung sendiri, luar biasa"
"Hingga kini, antusiasme warga Dringu dalam melestarikan warisan leluhur ini masih sangat tinggi. Tradisi yang dilaksanakan turun-temurun ini menjadi simbol kerukunan antar warga sekaligus menjaga kearifan budaya lokal di tengah arus modernisasi." Pungkas Reno. (.)



.png)
Posting Komentar untuk "Rajut Warisan Leluhur, Warga Dringu Kabupaten Probolinggo Gelar ini Setiap 10 Muharram."