Gemetar Dipuncak Kekuasaan: Mengapa Umar Bin Abdul Aziz Menangis Saat Dilantik?

Oleh: Advokat Ki Jal Atri Tanjung, S.Pd., S.H., M.H.

Ada satu kalimat pendek yang sarat makna, namun sering terlupa saat seseorang menjejakkan kaki di singgasana kekuasaan: Innalillahi wa innailaihi raji’un. Istirja’. Sebuah ucapan yang biasanya kita lontarkan saat mendengar kabar musibah. Tapi, pernahkah kita membayangkan mengucapkannya di saat menerima kertas keputusan pelantikan?

Ironisnya, di zaman yang serba cepat ini, euforia jabatan seringkali membutakan mata hati. Kursi direbut, tahta dipertahankan, kekuasaan dianggap sebagai milik mutlak yang harus digenggam erat hingga napas terakhir. Jarang sekali kita temukan seseorang yang menerima amplop pelantikan dengan perasaan lemas dan penuh tangis haru. Budaya Istirja’ dalam menerima amanah nyaris punah, tergerus oleh ambisi pribadi dan gengsi semata.

Padahal, sejarah mencatat kisah pilu sekaligus agung dari seorang pemimpin terbaik Bani Umayyah: Umar bin Abdul Aziz.

Saat Singgasana Menjadi Beban

Tanggal 10 Shafar 99 Hijriyah menjadi saksi bisu atas peristiwa yang menggetarkan hati para pejabat istana. Umar bin Abdul Aziz, seorang yang tidak pernah meminta jabatan, justru ditunjuk sebagai Khalifah. Saat kabar itu disampaikan, alih-alih tersenyum lebar atau berorasi penuh semangat, ia justru gemetar.

Ia lemas. Kepalanya tertunduk lesu di antara dua lututnya. Tubuhnya bergetar, dan ruangan pun hening oleh isak tangisnya yang tertahan. Dari bibirnya, meluncur kalimat yang membuat para hadirin tertegun: “Innalillahi wa innailaihi roji’un.”

Umar bin Abdul Aziz mengulanginya dalam bisikan yang penuh makna, “Demi Allah, aku tidak pernah meminta urusan ini sedikit pun, baik diam-diam maupun terang-terangan.”

Ia bukan sedang berpura-pura rendah hati. Ia benar-benar merasa takut. Di matanya, jabatan bukanlah mahkota yang memudahkan hidup, melainkan amanah yang kelak akan ditanya di hadapan Allah. Ia sadar, kursi Khalifah yang tampak megah itu, pada hakikatnya adalah pangkuan panas yang siap membakar siapa pun yang lalim.

Falsafah di Balik “Kembali kepada Allah”

Istirja’ adalah pengakuan paling jujur dari seorang hamba. Bahwa jabatan, kekuasaan, dan segala fasilitas yang melekat hanyalah titipan. Allah yang Maha Memiliki Kerajaan lah yang memberi, dan Dia pula yang berhak mencabut kapan saja.

Firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 26 dengan tegas menyatakan hal ini:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki…'”

Ayat ini adalah tamparan halus bagi para pemburu tahta. Bahwa naik turunnya seseorang di panggung kekuasaan adalah mutlak urusan Tuhan. Maka, saat pintu amanah itu terbuka, langkah pertama yang paling bijak adalah mengingat Sang Pemilik Kuasa. Bukan malah menghalalkan segala cara untuk mempertahankannya.

Membangkitkan Kembali Budaya yang Hilang

Lantas, bagaimana caranya agar budaya Istirja’ ini tidak sekadar menjadi cerita klasik di buku sejarah? Jawabannya adalah pembiasaan.

Pertama, mulai dari diri sendiri. Sebelum menuntut orang lain rendah hati, tanamkan dulu dalam jiwa bahwa setiap posisi kepemimpinan—sekecil apapun—adalah tanggung jawab besar. Ucapkan Istirja’ dalam hati saat menerima SK, atau saat pertama kali duduk di ruang kerja baru. Biarkan lidah dan hati kita bersaksi bahwa ini hanyalah titipan.

Kedua, ciptakan lingkungan yang saling mengingatkan. Jika dalam sebuah organisasi, tradisi mengucapkan kalimat ini saat serah terima jabatan menjadi budaya, maka akan tumbuh ekosistem kepemimpinan yang bersih dari kesombongan. Dukungan dari atasan dan rekan sangat diperlukan agar praktik baik ini tidak dianggap asing.

Ketiga, renungkan maknanya. Jangan jadikan Istirja’ sebagai lip service semata. Saat mengucapkannya, resapi bahwa suatu saat kita akan kembali kepada Allah. Pertanyaan pertama yang akan Dia ajukan bukanlah soal berapa banyak kekayaan yang kita kumpulkan, melainkan bagaimana kita memimpin dan mengelola amanah yang diberikan.

Kisah Umar bin Abdul Aziz mengajarkan kita bahwa tangisan saat menerima kekuasaan adalah tanda keagungan jiwa, bukan kelemahan. Ia takut karena ia paham betul bahwa “setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”

Maka, sudah saatnya kita menghidupkan kembali budaya Istirja’. Agar jabatan tidak melahirkan tiran, melainkan para pemimpin yang tawadhu’, yang menyadari bahwa dunia ini fana dan pertanggungjawaban di akhirat adalah kekal.

Sungguh, ucapan pendek itu adalah peluru emas penangkal sombong. Mari kita jadikan ia sebagai napas pertama dalam mengemban amanah. Semoga bermanfaat.

Posting Komentar untuk "Gemetar Dipuncak Kekuasaan: Mengapa Umar Bin Abdul Aziz Menangis Saat Dilantik? "

Ads :