JejakKriminal.net | Garut – Kondisi lembaga pendidikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al Basyariah yang berlokasi di Desa Sirnajaya, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, menjadi sorotan. Pasalnya, gedung sekolah tersebut terlihat tidak terawat dan terkesan kumuh, meskipun diketahui telah menerima bantuan Biaya Operasional Pendidikan (BOP).
Berdasarkan data yang dihimpun, MTs Al Basyariah tercatat memiliki sebanyak 161 peserta didik. Setiap siswa disebut menerima alokasi dana BOP berkisar antara Rp1.100.000 hingga Rp1.160.000 per tahun. Dana tersebut semestinya digunakan untuk menunjang operasional sekolah, termasuk pemeliharaan sarana dan prasarana.
Namun, hasil pantauan di lapangan menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Lingkungan sekolah tampak kurang bersih, dengan sejumlah fasilitas yang tidak terawat. Beberapa bagian bangunan seperti dinding dan lantai terlihat kusam, sementara fasilitas pendukung lainnya juga dinilai tidak mendapatkan perhatian maksimal.
Lebih memprihatinkan lagi, kondisi toilet (WC) sekolah dilaporkan tidak terawat dan dipenuhi tumpukan sampah. Hal ini dinilai bertolak belakang dengan nilai-nilai kebersihan yang seharusnya dijunjung tinggi di lingkungan pendidikan berbasis keagamaan.
Bantuan BOP sendiri memiliki tujuan untuk membantu kebutuhan operasional lembaga pendidikan, seperti pemeliharaan fasilitas, pengadaan perlengkapan belajar, serta mendukung kegiatan pembelajaran.
Saat dikonfirmasi, salah seorang guru bagian kurikulum MTs Al Basyariah, Dian, memberikan penjelasan terkait kondisi tersebut. Ia menyebut jumlah siswa berada di kisaran seratus lebih, namun tidak merinci angka pasti.
“Iya pak, muridnya seratus lebih, tapi untuk pastinya operator yang lebih tahu. Kalau perpustakaan ada di atas, bareng dengan kantor,” ujarnya.
Terkait penggunaan dana, Dian menjelaskan bahwa dana BOS lebih difokuskan untuk kesejahteraan guru. “Kalau BOS itu bukan untuk pembangunan ruang kelas baru, lebih ke kesejahtaran guru dan honor guru. Bukan untuk sarana prasarana,Untuk sarana prasarana memang ada alokasi sekitar 20 persen, tergantung kebijakan sekolah,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebagian besar siswa berasal dari luar daerah Garut, terutama dari Bandung, serta beberapa dari wilayah Garut selatan. “Iya, kebanyakan dari Bandung, luar Garut. Dari Pakidulan juga ada beberapa,” katanya.
Dari hasil wawancara dan temuan di lapangan, tim awak media mencatat adanya sejumlah kejanggalan, termasuk terkait data jumlah siswa dan kondisi fasilitas yang tidak sebanding dengan adanya bantuan operasional yang diterima.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola yayasan maupun instansi terkait mengenai kondisi tersebut.
(A.Dinata)


.png)
Posting Komentar untuk "Gedung MTs Garut Disorot, Diduga Tak Terawat Meski Terima Dana BOP"