Di Balik Julukan “Mutiara Hitam”, Pemuda Kertapati Merasa Terasing di Tanah Sendiri*
KERTAPATI, PALEMBANG–Jejakkriminal.net
Kertapati dikenal luas sebagai “Mutiara Hitam” Sumatera Selatan karena kaya sumber daya alam dan menjadi pusat berdirinya banyak perusahaan besar. Aktivitas ekonomi di kawasan ini berjalan cepat, investasi terus masuk, dan kemajuan pembangunan terlihat jelas di setiap sudut. Namun di balik gemerlap tersebut, muncul keresahan mendalam di kalangan pemuda asli Kertapati. Mereka merasa ruang hidup dan ruang kerja semakin menyempit, sehingga perlahan merasa seperti orang asing di tanah kelahirannya sendiri.
Di gang-gang sempit, di pinggir jalan raya, hingga di tempat nongkrong sederhana, banyak pemuda terlihat menghabiskan waktu tanpa kegiatan yang produktif. Dulu nama besar Kertapati menjadi kebanggaan dan sumber harapan bagi warga lokal. Kini harapan itu perlahan memudar, seolah ditelan oleh derasnya pembangunan yang tidak sepenuhnya membuka peluang bagi masyarakat setempat.
“Semakin banyak perusahaan berdiri di Kertapati, tetapi itu belum menjadi peluang bagi kami,” ujar Pelor, seorang pemuda setempat yang sehari-harinya berkeliling kampung. Ia dan teman-temannya menyebut diri mereka sebagai “luntang-lantung”, istilah lokal untuk menggambarkan orang yang berjalan tanpa tujuan pasti dan belum memiliki pekerjaan tetap, meski tinggal di tengah kawasan yang penuh aktivitas ekonomi.
Dengan suara lirih namun penuh penekanan, Pelor menyampaikan isi hatinya yang mewakili keresahan banyak pemuda di Kertapati.
“Memang saya tidak bergelar sarjana dan tidak memiliki ijazah tinggi. Tapi setidaknya berilah kami kesempatan untuk turut merasakan hasil pembangunan ini. Kami sadar mungkin kalah bersaing dengan mereka yang berpendidikan lebih tinggi. Namun untuk pekerjaan yang berat dan menguras tenaga, kami siap bekerja keras,” tegasnya.
Ia menambahkan, Kertapati adalah kampung halaman tempat mereka lahir, tumbuh, dan besar. Karena itu, terasa janggal ketika perusahaan-perusahaan besar berdiri di wilayah ini, tetapi pintunya tertutup bagi tenaga kerja lokal.
Keluhan Pelor bukan keluhan pribadi, melainkan suara hati ribuan pemuda di Kertapati. Pembangunan dan investasi memang tumbuh pesat, namun akses kerja bagi warga lokal, terutama mereka yang berpendidikan rendah atau hanya tamatan sekolah dasar dan menengah, terasa semakin sempit bahkan tertutup rapat.
Banyak perusahaan yang beroperasi di wilayah ini lebih memilih merekrut tenaga kerja dari luar daerah atau menetapkan syarat yang sulit dipenuhi warga setempat. Akibatnya, potensi tenaga kerja lokal yang melimpah tidak terserap, dan angka pengangguran muda tetap tinggi meskipun daerah ini dikenal sebagai pusat ekonomi.
Para pemuda menyampaikan harapan sederhana kepada pemerintah daerah dan perusahaan yang beroperasi di Kertapati. Mereka meminta agar perusahaan tidak hanya datang untuk mengeksploitasi sumber daya alam, tetapi juga membuka ruang kerja bagi warga lokal. Pelatihan keterampilan dan prioritas rekrutmen bagi anak asli daerah dinilai penting agar pembangunan benar-benar dirasakan bersama.
Bagi mereka, julukan “Mutiara Hitam” tidak boleh hanya menjadi slogan kosong atau nama yang megah tanpa makna. Nama itu harus memiliki arti nyata dalam bentuk kemajuan yang dinikmati bersama, di mana anak-anak asli Kertapati menjadi pelaku utama, bukan hanya penonton di pinggir jalan.
Karena bagi mereka, Kertapati bukan sekadar tempat berbisnis. Ini adalah rumah. Dan di rumah sendiri, seharusnya penghuninya tidak merasa seperti tamu yang tidak diundang.
*Rilis: MC-JK*



.png)
Posting Komentar untuk "Di Balik Julukan “Mutiara Hitam”, Pemuda Kertapati Merasa Terasing di Tanah Sendiri*"