Kendal,Pagi ini,15 Jun 2026 Dalam Rangkaian HUT Kendal bertempat di pendopo melakukan ziarah ke Makam Tumenggung Bahurekso di Tegal.Rombongan terdiri dari unsur forkopimda,kepala dinas dan undangan lainnya diberangkan lansung oleh Bupati Kendal
Dalam sambutannya Bupati mengharap agar semua meneladani perjuangan beliau. Tumenggung Bahurekso terlahir dengan nama kecil Joko Bahu (Jaka Bahu). Silsilah keturunannya mempertemukan garis darah bangsawan Mataram, kesaktian spiritual, dan legasi pembabat hutan legendaris di pesisir utara Jawa.
Beliau merupakan putra dari Ki Ageng Cempaluk, seorang tokoh spiritual sakti dan penasihat berwibawa di wilayah Kesesi.
Melalui jalur ibu, Joko Bahu merupakan cicit dari Puteri Bondan Kejawan dan Ki Ageng Ngerang. Garis keturunan ini membuatnya memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan keluarga kerajaan Mataram Islam serta Pangeran Benowo dari Kesultanan Pajang.
Sebelum memegang tongkat komando pasukan Mataram, nama Joko Bahu meroket berkat keberhasilannya menaklukkan alam liar Pantai Utara (Pantura).Sultan Agung memerintahkan Joko Bahu untuk membuka Alas Roban dan hutan Gambiran menjadi area pertanian guna menyokong ketahanan pangan kerajaan. Hutan tersebut kala itu terkenal sangat angker dan dikuasai koloni siluman.
Dalam legenda rakyat Pekalongan, Joko Bahu sempat kewalahan melawan raja siluman penunggu hutan. Atas saran ayahnya, ia melakoni Tapa Ngalong (bertapa dengan posisi tubuh menggantung terbalik seperti kelelawar di pohon) selama 40 hari.
Tempat pertapaan Joko Bahu yang dipenuhi kalong (kelelawar besar) inilah yang di kemudian hari memicu lahirnya nama Pekalongan (P-angka-long-an atau tempat kalong).
Atas keberhasilannya memajukan wilayah pesisir dan loyalitasnya yang tanpa batas, Sultan Agung menganugerahinya gelar Tumenggung Bahurekso. Kata Bahurekso sendiri memiliki arti "pelindung" atau "penjaga wilayah".
Beliau resmi dilantik sebagai Bupati Kendal pertama pada 28 Juli 1605. Tanggal pelantikan keramat inilah yang hingga kini diabadikan sebagai hari lahir resmi Pemerintah Kabupaten Kendal.
Berikut Kisah menjelang wafat beliau saat mendapat tugas menggempur VOC di Batavia...
Angin malam tahun 1628 berembun darah. Di bawah langit Batavia yang pekat oleh asap mesiu, seorang pria berdiri tegap di barisan paling depan. Dialah Baureksa—Tumenggung Kendal yang memanggul mandat sakral dari Sultan Agung Mataram. Tugasnya mustahil bagi manusia biasa: meruntuhkan tembok benteng VOC yang angkuh dengan keberanian dan sebilah keris di tangan.
Hari-hari pertempuran berubah menjadi neraka jahanam. Dentuman meriam Belanda mencabik-cabik udara, meruntuhkan barisan prajurit Jawa yang maju tanpa rasa takut. Di tengah desing peluru dan bau anyir kematian, Tumenggung Bahurekso menerjang badai api. Beliau adalah tameng bagi anak buahnya, singa medan laga yang tak sudi tunduk pada kompeni.
Namun takdir sejarah tertulis dengan tinta yang kejam. Dalam sebuah bentrokan yang paling brutal, sebuah dentuman meriam mengakhiri kedigdayaan sang panglima. Tubuhnya yang gagah perkasa roboh, bersimbah darah di tanah rawa Batavia.
Di tengah kekacauan runtuhnya pasukan Mataram, para prajurit setia yang tersisa menolak meninggalkan jasad pemimpin mereka jatuh ke tangan musuh. Dengan sisa-sisa tenaga dan air mata yang menyamar sebagai keringat, mereka menggotong tubuh sang pahlawan, mundur menjauh dari garis pantai, menyusuri jalur gerilya ke arah selatan.
Mereka berjalan berminggu-minggu menembus hutan belantara Jawa, menghindari kejaran patroli VOC, membawa pulang sang singa yang telah gugur. (Ada yang mengatakan bahwa beliau gugur saat dalam pelarian)
Perjalanan suci itu berakhir di sebuah pedalaman sunyi yang kini dikenal sebagai Lebaksiu, Tegal. Di sanalah, jauh dari gemuruh takhta Kendal dan riuh peperangan, sang panglima perang dikebumikan dalam keheningan yang magis.
Hingga hari ini, ratusan tahun telah berlalu, tanah Lebaksiu tetap mendekap erat jasad sang penantang badai. Saban tahun, para penerusnya datang bersimpuh di pusara itu—bukan untuk meratapi kekalahan, melainkan untuk meminum kembali semangat api membara yang pernah berkobar di dada Tumenggung Bahurekso.Lokasi makam: Desa Lebaksiu Kidul, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah








.png)
Posting Komentar untuk "Bupati Kendal Berziarah ke Makam Tumenggung Bahurekso, Tegal Dalam Rangkaian HUT Kendal dan Mengenal Bupati Pertama Kendal"