Perjuangan Guru PAI di Kudus, Tempuh 50 Kilometer dan Hadapi Risiko Kecelakaan Demi Mengajar

Kudus, jejakkriminal.net

 Perjuangan seorang guru dalam menjalankan tugasnya tidak selalu mudah. Hal itu dirasakan Panti, seorang Guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di SMP 3 Dawe, Kabupaten Kudus, yang setiap hari harus menempuh perjalanan sekitar 50 kilometer dari rumah menuju sekolah tempatnya mengajar.

Panti yang merupakan warga Desa Kuthuk, Kecamatan Undaan, harus berangkat sejak pukul 05.00 WIB agar dapat tiba tepat waktu di SMP 3 Dawe yang berada di Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe. Jarak yang jauh membuatnya membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam perjalanan setiap hari.

“Rumah saya berada di ujung selatan Kudus, perbatasan Kudus-Pati, sedangkan tempat mengajar di ujung utara Kudus. Jadi benar-benar dari ujung ke ujung,” ujarnya, Rabu (29/7/26)

Ia mengaku memilih melintasi pusat Kota Kudus melalui Alun-alun Kudus karena lebih hafal jalur tersebut dibandingkan rute timur. Meski begitu, perjalanan yang ditempuh tetap cukup panjang dan menguras tenaga.

“Kalau berangkat sekitar satu setengah jam itu harus langsung jalan tanpa berhenti. Kalau pulangnya harus mampir ke dinas atau ada keperluan lain, perjalanan bisa lebih dari dua jam dan sampai rumah sudah malam,” katanya.

Saat ini, Panti tidak hanya mengemban tugas sebagai guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Ia juga dipercaya menjadi Pembina OSIS, mengurus administrasi kepegawaian, menjadi dan admin kepegawaian. 

Bahkan, karena sekolah belum memiliki tenaga tata usaha setelah pegawai sebelumnya pensiun, sejumlah pekerjaan administrasi turut dibebankan kepada para guru.

“Karena TU sudah pensiun dan belum ada penggantinya, tugas-tugas administrasi juga kami kerjakan,” jelasnya.

Kesibukan tersebut semakin terasa saat awal tahun ajaran baru. Pembaruan data melalui aplikasi Dapodik membuatnya harus bekerja hingga larut malam.

“Kalau musim update Dapodik seperti sekarang ini, sering lembur. Sampai rumah kadang sudah malam,” ungkapnya.

Perjalanan jauh yang harus ditempuh setiap hari juga menyimpan risiko. Panti mengaku kerap menghadapi panas, hujan, hingga rasa kantuk saat berkendara. Ia bahkan telah beberapa kali mengalami kecelakaan.

“Sering kecelakaan dan tabrakan. Motor saya sampai remuk dan akhirnya harus membeli motor lagi,” tuturnya.

Tak hanya itu, kondisi kesehatannya juga sempat terganggu akibat aktivitas yang padat. Dalam satu tahun, ia bahkan harus menjalani rawat inap sebanyak tiga kali.

“Saya pernah keluar masuk rumah sakit. Dalam satu tahun sampai tiga kali opname. Alhamdulillah setahun terakhir sudah mulai bisa menyesuaikan, meski tetap saja perjalanan masih penuh risiko,” katanya.

Meski demikian, Panti memilih tetap bertahan menjalankan amanah sebagai pendidik. Semangatnya tidak hanya didorong oleh tanggung jawab kepada para siswa, tetapi juga kepada keluarga yang bergantung kepadanya.

“Saya harus tetap berjuang. Kalau saya tidak bekerja, bagaimana dengan orang tua dan anak saya. Saya merawat anak sendirian sekaligus merawat orang tua. Itu yang membuat saya terus bertahan,” pungkasnya.

Kisah Panti menjadi gambaran nyata dedikasi seorang guru yang rela mengorbankan waktu, tenaga, kesehatan, hingga keselamatan demi memberikan pendidikan terbaik bagi para peserta didik di Kabupaten Kudus.

( Udin )

Posting Komentar untuk "Perjuangan Guru PAI di Kudus, Tempuh 50 Kilometer dan Hadapi Risiko Kecelakaan Demi Mengajar"

```

Ads :