Opini_jejakkriminal.net. Di tengah hiruk-pikuk persoalan masyarakat, mulai dari kesenjangan ekonomi, kerusakan lingkungan, hingga krisis kepercayaan publik, pencitraan politik patut dipertanyakan relevansinya. Politik hari ini sering kali lebih sibuk merawat tampilan daripada menyelesaikan persoalan substansial. Media sosial dipenuhi narasi keberhasilan, foto kunjungan, dan slogan empatik, sementara di lapangan masyarakat masih bergulat dengan masalah yang sama dari tahun ke tahun.
Pencitraan politik pada dasarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya salah. Dalam kadar tertentu, ia dapat menjadi sarana komunikasi antara pemimpin dan rakyat. Namun, persoalan muncul ketika pencitraan berdiri sendiri tanpa kerja nyata. Ketika citra menjadi tujuan utama, kebijakan berubah menjadi alat panggung, dan penderitaan masyarakat sekadar latar belakang dramatik. Dalam kondisi seperti ini, pencitraan justru menjauhkan politik dari esensinya: melayani kepentingan publik.
Kebisingan persoalan masyarakat hari ini menuntut lebih dari sekadar simbol dan retorika. Rakyat semakin kritis dan memiliki akses luas terhadap informasi, sehingga pencitraan yang kosong mudah terbaca sebagai manipulasi. Ketika janji tidak sejalan dengan realitas, kepercayaan publik pun runtuh. Politik yang terlalu sibuk membangun citra berisiko kehilangan legitimasi moral di mata masyarakat.
Menurut penulis, pencitraan politik hanya akan relevan jika ia berjalan seiring dengan kerja nyata dan keberpihakan yang jelas. Citra seharusnya lahir sebagai hasil dari kebijakan yang berdampak, bukan sebagai pengganti dari kinerja yang absen. Di tengah kebisingan persoalan masyarakat, yang dibutuhkan bukan politisi yang pandai tampil, melainkan pemimpin yang berani bekerja dalam diam dan membiarkan hasilnya berbicara. (TL)



.png)
Posting Komentar untuk "Relevansi Pencitraan Politik Di Tengah Bisingnya Persoalan Masyarakat"