Pontianak 1 Maret 2026 Kalimantan Barat – Dalam semangat menjaga marwah peradaban, merawat warisan leluhur, serta memperkokoh fondasi persatuan masyarakat, Kesultanan Pontianak bersama Dewan Adat Dayak menegaskan komitmen memperkuat kolaborasi strategis sebagai pilar utama harmoni, stabilitas sosial, dan keberlanjutan identitas budaya di Kalimantan Barat.
Kolaborasi ini bukan sekadar simbol seremonial, melainkan manifestasi nyata dari kesadaran kolektif bahwa adat, budaya, dan nilai-nilai luhur leluhur merupakan fondasi utama dalam menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat. Dalam konteks dinamika zaman yang terus berubah, sinergi antara Kesultanan Pontianak dan Dewan Adat Dayak menjadi penegasan bahwa kekuatan Kalimantan Barat terletak pada kemampuannya menjaga persatuan dalam keberagaman, serta menjadikan warisan budaya sebagai sumber legitimasi moral dan kekuatan sosial.
Sultan Pontianak, Syarif Melvin Alqadri, menegaskan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Gawai Naik Dango 2026 sebagai momentum strategis dan bersejarah untuk mempererat persaudaraan lintas adat, memperkuat identitas kolektif masyarakat, serta meneguhkan komitmen persatuan dalam bingkai kehormatan budaya Kalimantan Barat.
> “Gawai Naik Dango bukan sekadar perayaan adat, tetapi merupakan simbol penghormatan terhadap leluhur, ungkapan syukur atas keberkahan kehidupan, serta cerminan jati diri masyarakat Kalimantan Barat yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan kehormatan budaya. Momentum ini harus dimaknai sebagai ruang pemersatu, yang meneguhkan kembali bahwa kekuatan kita terletak pada persatuan, saling menghormati, dan menjaga warisan leluhur sebagai amanah yang tidak ternilai,” tegas Sultan Syarif Melvin Alqadri.
Lebih lanjut, Sultan menekankan bahwa adat dan budaya bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi merupakan sistem nilai yang hidup, yang berperan sebagai penuntun moral, penjaga keseimbangan sosial, dan penopang stabilitas masyarakat. Dalam perspektif ini, Gawai Naik Dango memiliki makna strategis sebagai ruang konsolidasi budaya, yang mempertemukan nilai spiritual, sosial, dan historis dalam satu kesatuan yang utuh.
Sinergi antara Kesultanan Pontianak dan Dewan Adat Dayak juga mencerminkan kematangan peradaban masyarakat Kalimantan Barat, di mana perbedaan latar belakang adat dan tradisi tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi kekuatan pemersatu yang memperkaya identitas bersama. Kolaborasi ini sekaligus menjadi pesan moral yang kuat bahwa harmoni sosial hanya dapat terwujud melalui penghormatan terhadap adat, pengakuan terhadap warisan leluhur, dan komitmen bersama dalam menjaga keseimbangan kehidupan bermasyarakat.
Kesultanan Pontianak memandang bahwa masyarakat adat memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas sosial, melestarikan nilai-nilai luhur, serta memastikan keberlanjutan identitas budaya di tengah arus modernisasi. Oleh karena itu, dukungan terhadap Gawai Naik Dango 2026 merupakan bentuk penghormatan terhadap peran penting masyarakat adat sebagai penjaga peradaban, sekaligus mitra strategis dalam membangun masa depan Kalimantan Barat yang bermartabat.
Momentum ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat solidaritas lintas komunitas, membangun kepercayaan kolektif, serta mempertegas posisi Kalimantan Barat sebagai wilayah yang menjunjung tinggi nilai persatuan, toleransi, dan kehormatan budaya. Lebih dari itu, kolaborasi ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi generasi masa depan untuk terus merawat identitas budaya, menjaga persatuan, dan memperkuat fondasi peradaban yang berakar pada nilai-nilai luhur leluhur.
Sebagai institusi adat yang memiliki tanggung jawab historis dan moral, Kesultanan Pontianak menegaskan komitmennya untuk terus berada di garis terdepan dalam menjaga harmoni sosial, memperkuat persatuan masyarakat, serta memastikan bahwa warisan leluhur tetap hidup dan menjadi sumber kekuatan dalam membangun masa depan Kalimantan Barat yang berdaulat secara budaya, bermartabat secara sosial, dan kokoh dalam persaudaraan.
Kolaborasi antara Kesultanan Pontianak dan Dewan Adat Dayak menjadi penegasan bahwa masa depan Kalimantan Barat tidak hanya dibangun melalui kekuatan pembangunan fisik, tetapi juga melalui kekuatan nilai, kehormatan budaya, dan persatuan masyarakat yang berakar pada warisan leluhur.
Tim Liputan. (Red/Am)



.png)
Posting Komentar untuk "Kesultanan Pontianak dan Dewan Adat Dayak Perkokoh Kolaborasi Strategis: Sultan Syarif Melvin Tegaskan Gawai Naik Dango 2026 sebagai Simbol Persatuan, Kehormatan Budaya, dan Masa Depan Kalimantan Barat"