Jejak Kriminal.Net|Garut- SMPN 2 Karangpawitan yang beralamat di Kampung Sukatani, Desa Situgede, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, kembali menuai perhatian publik karena sejumlah temuan yang menimbulkan pertanyaan besar terkait pengelolaan dan transparansi dana pendidikan atau Dana BOS.
Berdasarkan penelusuran tim awak media, ada ketidaksesuaian data jumlah siswa di sistem ARKAS dan data Dapodik. Di raport ARKAS tercatat sebanyak 960 siswa, sedangkan di Dapodik jumlah peserta didik mencapai 1.034 siswa—menimbulkan tanda tanya mengenai keakuratan pelaporan dan kemungkinan adanya manipulasi data.
Selain soal jumlah peserta didik, pihak sekolah mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 terdapat sekitar 20 orang guru honorer yang aktif mengajar dengan anggaran honor total sekitar Rp270.490.000 per tahun. Honor per guru bervariasi antara Rp750.000 hingga Rp2.000.000, yang mana besar dana tersebut dinilai cukup besar untuk penggajian tenaga honorer.
Tak hanya soal tenaga pengajar, tim juga menyoroti pengelolaan anggaran pengembangan perpustakaan yang tercatat mencapai Rp105.619.900, yang diklaim berasal dari alokasi 15 persen dana BOS untuk fasilitas perpustakaan dan wifi, hal itu di akui Kepala Sekolah, Ayi Jamaludin diruang kerjanya.
Sayangnya, saat dilakukan peninjauan langsung ke lokasi, fasilitas wifi tersebut tidak ditemukan di lapangan dan kondisi perpustakaan dinilai belum layak dan tidak sepadan dengan anggaran yang digelontorkan.
“Iya benar, untuk pengembangan perpustakaan kami anggarkan sekitar 15 persen dari dana BOS, totalnya sekitar Rp105 juta lebih, termasuk fasilitas wifi,” ungkapnya, tandas nya, rabu (11-03-2026).
Lebih jauh, kondisi lingkungan sekolah menunjukkan banyak kerusakan. Beberapa ruang kelas memperlihatkan kaca pecah, pintu rusak, dan atap yang ditumbuhi rumput. Fasilitas Mandi Cuci Kakus (Wc) siswa juga mengkhawatirkan, dengan beberapa WC yang penuh coretan tak pantas, bahkan ada yang dilaporkan tidak terawat dan memprihatinkan.
Padahal, dalam laporan anggaran sekolah, pemeliharaan sarana prasarana setiap tahun dianggarkan sekitar 20 persen dari dana BOS, namun kondisi fisik sekolah tidak mencerminkan alokasi tersebut sehingga menimbulkan dugaan penyalahgunaan anggaran pemeliharaan.
Hingga berita ini dirilis, berbagai temuan tersebut masih menjadi perhatian publik dan memicu desakan agar pihak terkait melakukan evaluasi mendalam terkait pengelolaan dana sekolah.
Transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan secara ketat diharapkan mampu mengatasi permasalahan tersebut demi keberlangsungan pendidikan yang berkualitas dan sesuai harapan masyarakat.


.png)
Posting Komentar untuk "SMPN 2 Karangpawitan Jadi Sorotan, Data Siswa Tidak Match, Kondisi Sekolah Kurang Terawat Kesan Kumuh Jadi Trending"