Jejak kriminal.net|Garut- Kondisi bangunan dan fasilitas di SDN 2 Dangder, yang beralamat di Kampung Bojonggede, Desa Dangder, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, dinilai sangat memprihatinkan. Berdasarkan pengamatan langsung, lingkungan sekolah terlihat kumuh, salah satu ruangan kelas bahkan tidak memiliki langit-langit atau plafon, serta fasilitas kamar mandi tampak rusak dan tidak terawat dengan baik.
Padahal pada tahun 2025, sekolah yang menampung 205 siswa ini menerima alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah Pendidikan (BOSP) sebesar Rp184.500.000. Dari jumlah tersebut, sejumlah pos anggaran telah dialokasikan, antara lain untuk pembayaran honor sebesar Rp32.600.000, pengembangan perpustakaan sebesar Rp18.840.500, serta pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah sebesar Rp24.473.100, dan pos pengeluaran lainnya.
Meskipun setiap tahun anggaran pemeliharaan fasilitas senantiasa disediakan, kondisi bangunan dan fasilitas sekolah tak kunjung membaik. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas penggunaan dana yang telah diberikan.
Saat dikunjungi pada Kamis (23/4/2026), Kepala Sekolah Sidik Permana, S.Pd.I. tidak ditempat kerjanya. Seorang guru yang ditemui di lingkungan sekolah menyebutkan bahwa Kepala Sekolah yang menjabat sejak tahun 2023 tersebut sedang melaksanakan tugas di luar sekolah, kemungkinan berada di sekolah lain karena dirinya memegang tanggung jawab di dua sekolah.
“Memang kondisi sekolah sudah banyak bagian yang rusak, Pak. Kami pun merasa khawatir, takutnya ada bagian bangunan atau kayu penyangga atap yang tiba-tiba jatuh dan menimpa siswa kami saat belajar,” ujar guru tersebut mengungkapkan kekhawatirannya.
Di tempat terpisah, Sidik Permana akhirnya memberikan klarifikasi terkait penggunaan dana BOSP tersebut. Ia membenarkan bahwa dana sebesar Rp32.600.000 digunakan untuk membayar honorarium empat orang tenaga pendidik atau tenaga kependidikan, namun dirinya tidak dapat menyebutkan rincian jumlah yang diterima masing-masing orang dengan alasan lupa.
“Kalau untuk pengembangan perpustakaan, fokus penggunaannya untuk pengadaan buku-buku bacaan. Sedangkan anggaran pemeliharaan sarana dan prasarana kami gunakan untuk perbaikan lantai, penggantian genteng yang rusak, serta perbaikan bagian bangunan lainnya,” jelasnya.
Meski demikian, Sidik mengakui dirinya tidak dapat menjelaskan secara rinci penggunaan dana di setiap pos anggaran. Ia beralasan perlu membuka kembali dokumen data keuangan agar penjelasannya akurat dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
“Untuk rincian detailnya mungkin saya harus membuka datanya terlebih dahulu, soalnya saya juga kurang mengingatnya dengan jelas. Takutnya kalau saya hanya memperkirakan saja, informasinya tidak tepat dan kurang efektif untuk disampaikan,” pungkasnya.
(Hendra)


.png)
Posting Komentar untuk "Memprihatinkan, Terima Dana BOSP Rp184,5 Juta Pertahun Pasilitas SDN 2 Dangder Di Biarkan Rusak Dan Tak Terpelihara "