Kubu Raya, 4 April 2026 – Kalimantan Barat Kontestasi pemilihan Ketua KONI Kubu Raya kini telah melampaui sekadar proses organisasi. Ia menjelma menjadi ujian terbuka atas integritas, netralitas, dan keberanian menegakkan aturan di tengah tekanan.
Dua bakal calon, Joko Ariyanto dan Zulkarnaen—yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kubu Raya dari partai politik—telah mengunci panggung.
Namun, sorotan publik kini tidak lagi tertuju pada siapa yang maju,
melainkan pada bagaimana proses itu dijalankan.
Isu Tak Lagi Administratif, Melainkan Moral Proses
Secara formal, tahapan berjalan:
berkas dikembalikan, prosedur terlihat terpenuhi.
Namun di balik itu, muncul dinamika yang tak bisa diabaikan—
ruang-ruang fleksibilitas yang kian melebar di penghujung tahapan.
Perbaikan berkas.
Penyesuaian dukungan.
Toleransi waktu.
Semua mungkin memiliki dasar administratif.
Namun publik membacanya dari sudut yang berbeda:
apakah ini kelonggaran yang wajar, atau justru awal dari preseden berbahaya?
Sebab dalam organisasi yang sehat, aturan tidak untuk dinegosiasikan—
melainkan ditegakkan tanpa pengecualian.
Zulkarnaen dan Bayang-Bayang Struktur
Zulkarnaen membawa kekuatan yang tidak kecil:
jabatan politik, jaringan, dan pengalaman struktural.
Namun di situlah letak sensitivitasnya.
KONI bukan ruang politik praktis,
melainkan ruang netral yang seharusnya steril dari pengaruh kekuasaan.
Ketika dinamika terlihat lentur di sekitar kandidat dengan kekuatan struktural,
maka wajar jika publik mulai bertanya:
apakah ini kebetulan, atau pola yang bekerja secara halus?
Pertanyaan ini tidak lahir tanpa sebab—
melainkan dari pembacaan atas proses yang sedang berlangsung.
Joko Ariyanto: Konsistensi yang Sulit Disangkal
Di tengah dinamika tersebut, Joko Ariyanto tampil dengan pola yang kontras.
Tanpa riak.
Tanpa koreksi berulang.
Tanpa ketergantungan pada toleransi waktu.
Semua dibangun sejak awal.
Dukungan dikonsolidasikan sebelum batas waktu.
Administrasi disiapkan tanpa revisi.
Komunikasi dijaga tanpa tekanan.
Dalam situasi yang penuh tafsir seperti sekarang, pola ini menjadi pembanding yang sulit diabaikan—
bukan karena diklaim lebih baik,
melainkan karena tidak menyisakan celah untuk dipertanyakan.
TPP di Bawah Tekanan: Netral atau Terbaca Memihak?
Sorotan kini mengerucut pada satu titik:
Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP) KONI Kubu Raya.
Di tangan mereka, bukan hanya hasil yang ditentukan,
melainkan juga legitimasi dari hasil tersebut.
Publik mulai mengamati dengan lebih tajam:
Apakah semua kandidat diperlakukan dengan standar yang sama?
Apakah setiap toleransi diberikan secara setara?
Ataukah terdapat elastisitas yang muncul pada momen tertentu?
Karena satu hal yang pasti:
ketidaknetralan tidak selalu tampak kasar—
kadang hadir dalam bentuk kelonggaran yang terlihat wajar.
Pernyataan Cabor: Isyarat yang Tak Bisa Diabaikan
Sejumlah pengurus cabang olahraga mulai angkat suara—dengan bahasa terukur, namun sarat makna:
> “TPP harus transparan, jujur, adil, serta menjunjung tinggi AD/ART dan netralitas tanpa tekanan.”
Pernyataan tersebut disampaikan oleh:
Roby (Ketua Pengkab ESI Kubu Raya)
Erwansyah (Ketua Pengkab Pertina Kubu Raya)
Abdi (Ketua Harian Pengkab FAJI Kubu Raya)
Ilham (Pengurus FHI Kubu Raya)
Teguh Sriwidodo (Ketua Pengkab Persambi Kubu Raya)
Bagi publik yang jeli, ini bukan sekadar harapan,
melainkan pengingat bahwa prinsip organisasi tidak boleh dilonggarkan.
AD/ART Sedang Diuji, Bukan Sekadar Dibaca
AD/ART kini berada di titik paling menentukan.
Apakah ia akan ditegakkan sebagai aturan yang mengikat semua pihak,
atau ditafsirkan secara lentur mengikuti situasi?
Jika aturan mulai menyesuaikan kandidat,
yang runtuh bukan hanya proses—
melainkan kepercayaan yang menopang organisasi.
Menjelang Porprov: Risiko Lebih Besar dari Sekadar Pemilihan
Dengan Porprov di depan mata, keputusan hari ini akan menentukan arah ke depan.
Jika proses ini bersih, kepemimpinan akan kuat.
Namun jika menyisakan tafsir, siapa pun yang terpilih akan membawa beban legitimasi sejak hari pertama.
Dan itu adalah risiko besar bagi organisasi sebesar KONI.
Penutup: Publik Tidak Lagi Diam
Yang dipertaruhkan hari ini bukan sekadar dua nama.
Melainkan satu hal yang lebih mendasar:
apakah KONI Kubu Raya tetap berdiri di atas prinsip, atau mulai berkompromi dengan tekanan.
Publik—yang selama ini diam—kini mulai membaca, menilai, dan menyimpulkan.
Karena pada akhirnya,
bukan mereka yang paling cepat menyesuaikan yang akan dipercaya,
melainkan mereka yang sejak awal tidak pernah keluar dari garis.
Tim: Liputan



.png)
Posting Komentar untuk "KONI Kubu Raya di Persimpangan Integritas ,Dua Bacalon Mengunci Panggung, TPP Disorot: Aturan Ditegakkan atau Disesuaikan?"