Bandung jejak kriminal.net — Pengelolaan anggaran Program Ketahanan Pangan (Ketapang) di Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, disorot tajam.
Alokasi minimal 20 persen dari Dana Desa (DD) Tahun Anggaran 2025 yang dikucurkan untuk unit usaha BUMDes disinyalir tak berjalan efektif dan terancam mangkrak.
Berdasarkan pemantauan langsung di area belakang Kantor Desa Dayeuhkolot pada Rabu (12/8/2026), unit usaha gerai sembako BUMDes tampak minim aktivitas.
Tidak terlihat komoditas bahan pokok layaknya toko yang beroperasional setelah menerima kucuran dana negara. Hanya tampak beberapa karung beras tergeletak di dalam ruangan yang sunyi tersebut.
Kondisi ini memicu keprihatinan publik, terlebih penyertaan modal ke BUMDes Desa Dayeuhkolot disinyalir telah menelan anggaran akumulatif hingga lebih dari Rp754 juta.
Sekretaris Desa Dayeuhkolot, Sunardi, membenarkan bahwa alokasi anggaran Ketapang TA 2025 diarahkan untuk pengembangan unit usaha gerai sembako BUMDes.
"Berhubung potensi desa tidak strategis, baik di sektor pertanian maupun perikanan, maka BUMDes tahun 2025 mengalokasikan anggaran ketahanan pangan untuk gerai sembako," ujar Sunardi saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Rabu (12/8/2026).
Meski demikian, realisasi belanja modal tersebut dinilai belum berbanding lurus dengan keberlanjutan unit usaha di lapangan, memicu indikasi lemahnya perencanaan serta tata kelola BUMDes setempat.
Sampai berita ini di publikasikan Kepala Desa Dayeuhkolot Y. Setiana Dan Direktur BUMDes belum memberikan tanggapan resmi.



.png)



Posting Komentar untuk "Pengelolaan Program Ketapang Desa DayeuhKolot Jualan Sembako, Gerai Kosong Melompong?"