Kab.Bandung, jejak kriminal.net – Alih-alih mendongkrak perekonomian masyarakat dan menyumbang Pendapatan Asli Desa (PAdes), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di sejumlah daerah justru kerap gulung tikar dan tersandung persoalan hukum.
Ironi ini terjadi nyata di Desa Mandalasari, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung. Meski rutin menerima kucuran modal hingga ratusan juta rupiah dari Dana Desa, kontribusi ekonomi lembaga ini nihil.
Saat dikonfirmasi, Sekretaris Desa Mandalasari, Emen Yusup, tidak menampik kondisi tersebut. Ia mengakui bahwa penyertaan modal untuk BUMDes rutin digelontorkan hampir setiap tahun. Namun, dampaknya terhadap PAdes tetap tidak ada.
"Penyertaan modal ke BUMDes di desa memang hampir tiap tahun digelontorkan, namun tidak menghasilkan PAdes ke desa (nihil)," ungkap Emen kepada awak media.
Lebih mencengangkan lagi, Emen membeberkan bahwa sumber PAdes Mandalasari saat ini hanya mengandalkan sektor cagar budaya. Nilainya pun sangat memprihatinkan, yakni hanya sebesar Rp250.000 per tahun. Ketika didesak mengenai rincian total anggaran yang telah dikucurkan dari tahun ke tahun, Emen berdalih lupa.
"Namun besaran penyertaan modal ke BUMDes dari tahun ke tahun saya lupa," elaknya.
Untuk tahun anggaran 2025, Emen menjelaskan bahwa desa mengalokasikan 20% dari Dana Desa untuk sektor ketahanan pangan yang dikelola BUMDes.
Anggaran tersebut dialokasikan untuk budidaya ikan nila dan lele di Kampung Cinangka, serta peternakan kambing.
Menindaklanjuti keterangan Sekdes, awak media langsung melakukan penelusuran ke lokasi budidaya ikan di Kampung Cinangka.
Fakta di lapangan menunjukkan kondisi yang bertolak belakang dengan klaim program ketahanan pangan.
Bukan aktivitas budidaya yang ditemukan, melainkan pemandangan kolam-kolam ikan dalam keadaan kosong melompong. Kawasan proyek ratusan juta tersebut tampak terbengkalai dan sama sekali tidak terawat.
Kondisi karut-marut ini semakin dipertegas oleh pernyataan Ketua BUMDes Mandalasari, Elan Maulana. Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon WhatsApp, Elan membenarkan bahwa kolam tersebut kosong, dengan alasan komoditas ikan telah dipindahkan ke kelompok lain yang dipimpin oleh seorang warga bernama Agus.
Elan, yang mengaku baru menjabat menggantikan ketua sebelumnya, Haji Dede, menyatakan diri kebingungan dalam mengelola lembaga usaha desa tersebut.
Ia bahkan mengaku tidak tahu-menahu soal aliran dana ratusan juta yang dikucurkan selama ini.
"Saya masih bingung mengelola BUMDes. Apalagi kalau ditanyakan soal besaran nominal uang. Karena saya belum melihat atau memegang uang penyertaan modal. Saya hanya menerima aset saja, meneruskan usaha dari Pak Haji Dede," aku Elan.
Hingga berita ini diterbitkan, mantan Ketua BUMDes, Haji Dede, kepala desa, ketua BPD belum memberikan tanggapan resmi.
(Kaperwil Hendra)






.png)
Posting Komentar untuk "Ratusan Juta Modal BUMDes Mandalasari Menguap, Kolam Ikan Kosong dan PADes Hanya Rp250 Ribu?"