KENDAL ( Jawa Tengah ), Jejakkriminal.net - Sejumlah warga bersama rombongan melakukan ziarah ke Makam Wali Joko yang terletak di samping Masjid Agung Kendal,Desa Pekauman,Kendal, Jawa Tengah. Kegiatan ziarah berlangsung khidmat dengan diisi pembacaan doa dan tawasul di area makam.
Dari pantauan di lokasi, para peziarah tampak mengenakan pakaian rapi dan sarung. Mereka duduk bersama di atas sajadah di dalam cungkup makam yang tertutup kain putih. Suasana penuh kekhusyukan menyelimuti kegiatan tersebut.Makam Wali Joko sendiri merupakan salah satu situs religi yang cukup dikenal masyarakat Kendal. Makam ini kerap diziarahi warga dari berbagai daerah untuk memanjatkan doa, ngalap berkah, dan mengenang jasa para wali penyebar agama Islam di tanah Jawa.
"Kami ziarah ke sini untuk mendoakan para leluhur, memohon keberkahan, dan keselamatan untuk keluarga serta masyarakat luas. Semoga dengan ziarah ini kita semakin ingat akan sejarah perjuangan para wali," ujar Pembina DPW LSM Jawa Tengah, Drs Suparto.
Selain berdoa, rombongan juga melakukan foto bersama di depan pintu masuk makam yang bertuliskan MAKAM WALI JOKO Bangunan makam dengan arsitektur khas Jawa dan dinding bata merah ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para peziarah.
Team Densus Petamandala, melakukan penelusuran tentang siapa beliau ,Wali Joko. Berdasar cerita warga sekitar ,Ahmad Mualim, Bahwa Wali Joko memiliki nama kecil Jaka Suwirya adalah kakak-beradik dengan Sunan Katong yang konon dimakamkan di Kaliwungu. Wali Joko yang di saat mudanya bernama Pangeran Panggung, merupakan putra bungsu Prabu Kertabumi atau Prabu Brawijaya V dengan Permaisuri Dewi Murdaningrum, seorang putri dari Kerajaan Campa (ada yang menyebutkan Kamboja atau Thailand saat ini.
Berdasarkan penelusuran sejarah yang berhasil dirangkum, disebutkan bahwa Wali Joko masih memiliki hubungan darah dengan Raden Patah, raja pertama Kesultanan Demak Bintoro. Dimana, Raden Patah adalah putra Prabu Kertabumi dengan Permaisuri putri Kerajaan Campa, Dewi Kian.
Saat muda, Pangeran Panggung pernah berguru pada Syeh Siti Jenar. Raden Patah yang mengetahui hal ini, kemudian menasehati Wali Joko agar meninggalkan ajaran yang dinilai menyimpang dari syariat Islam, utamanya di bidang tauhid itu. Raden Patah menyarankan agar Wali Joko belajar agama kepada Sunan Kalijaga yang beraliran ahlusunnnah wal jama’ah.
Sekitar tahun 1500 Masehi, atau tepatnya 1210 H, Pangeran Panggung mendirikan sebuah masjid di Kendal. Pangeran Panggung datang dan mendirikan masjid di daerah Kendal, setelah melewati pengembaraan yang cukup panjang. Pengembaraan yang harus dilakukan, setelah kerajaannya, yaitu Majapahit, runtuh karena diserang pasukan Prabu Girindra Wardhana dari Kediri.
Kegiatan ziarah seperti ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat Kendal dalam menjaga nilai spiritual, sejarah, dan budaya. Pemerintah daerah juga terus mendorong agar situs-situs religi seperti Makam Wali Djoko tetap terawat dan menjadi destinasi wisata religi yang edukatif.








.png)



Posting Komentar untuk "Jajaran LSM Pedang Keadilan Perjuangan Ziarah Ke Makam Wali Joko, Panjatkam Doa Untuk Kemaslahatan Umat Dan Kedamaian Kendal "