Robenson, Sekretaris DPD Bara JP Lampung Dorong Solusi Sabuk Hijau di TNWK, yang mengakibatkan Kades Braja Asri Tewas Diinjak Gajah Liar
www,jejak Kriminal,net
Lampung Timur –3 Januari 2026
Tragedi memilukan menimpa Kepala Desa Braja Asri, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, Darusman, yang meninggal dunia setelah diduga diserang dan diinjak gajah liar yang keluar dari kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Rabu (31/12/2025).
Peristiwa tersebut terjadi saat korban bersama warga berupaya menghalau kawanan gajah liar yang masuk ke area persawahan dan perkebunan warga. Namun dalam proses penggiringan, salah satu gajah berbalik arah dan bersikap agresif, hingga menyebabkan korban mengalami luka serius dan akhirnya meninggal dunia.
Melalui Sekretaris Bara JP Provinsi Lampung, Robenson, Bara JP menilai tragedi ini bukan sekadar musibah, melainkan dampak dari lemahnya sistem mitigasi konflik satwa liar yang seharusnya menjadi tanggung jawab TNWK.
“Kami menyampaikan duka cita mendalam. Namun harus dikatakan secara jujur, TNWK terkesan lalai dan selalu bertindak reaktif, baru bergerak setelah terjadi konflik atau korban jiwa. Padahal, kejadian gajah keluar kawasan ini sudah berulang kali terjadi,” tegas Robenson, Jumat (2/1/2026).
Menurutnya, selama ini TNWK dinilai gagal membangun sistem pencegahan jangka panjang, sehingga warga desa penyangga justru menjadi tameng pertama menghadapi ancaman satwa liar.
“Yang turun ke lapangan justru kepala desa dan warga, tanpa perlindungan memadai, tanpa sistem peringatan dini, dan tanpa skema pengamanan yang jelas. Ini tidak boleh terus dibiarkan,” lanjutnya.
Menurut Robenson, salah satu solusi yang harus segera direalisasikan adalah penerapan Sabuk Hijau (Green Belt) di wilayah perbatasan taman nasional dengan pemukiman warga.
“Bara JP mendorong pembangunan sabuk hijau berupa tanaman pakan alami gajah di zona penyangga TNWK. Dengan adanya sabuk hijau, gajah memiliki sumber makanan di dalam atau sekitar kawasan, sehingga tidak terdorong keluar menuju kebun dan pemukiman warga,” jelasnya.
Ia menambahkan, konsep sabuk hijau bukan hal baru dan telah diterapkan di beberapa kawasan konservasi di Indonesia. Namun di sekitar TNWK, implementasinya dinilai belum optimal dan belum berkelanjutan.
“Sabuk hijau ini harus dirancang serius, melibatkan masyarakat desa, pemerintah daerah, TNWK, dan KLHK. Bukan hanya menanam, tetapi dirawat dan dijaga secara konsisten,” tegas Robenson.
Bara JP Lampung juga menilai selama ini warga dan aparat desa terlalu sering berada di garis depan menghadapi ancaman gajah liar, sementara sistem mitigasi konflik masih bersifat reaktif.
Selain penerapan sabuk hijau, Bara JP mendesak kepada Kementerian Kehutanan yang dinakhodai oleh Raja Juli Antoni untuk:
Evaluasi menyeluruh manajemen TNWK
Penambahan tim mitigasi konflik satwa
Sistem peringatan dini di desa penyangga
Perlindungan dan pendampingan bagi warga
“Konservasi tidak boleh mengorbankan nyawa manusia. Menjaga satwa dan melindungi rakyat harus berjalan beriringan,” tandasnya.
Selain itu, Bara JP meminta adanya perhatian serius dan bantuan kepada keluarga korban, serta jaminan keselamatan bagi warga desa penyangga TNWK agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
Sementara itu, warga Desa Braja Asri mengaku masih trauma dan khawatir, mengingat kawanan gajah liar masih kerap terlihat di sekitar area pertanian. Warga berharap tragedi yang menewaskan kepala desa mereka menjadi titik balik penanganan konflik gajah–manusia secara serius dan berkelanjutan.



.png)
Posting Komentar untuk "Robenson, Sekretaris DPD Bara JP Lampung Dorong Solusi Sabuk Hijau di TNWK, yang mengakibatkan Kades Braja Asri Tewas Diinjak Gajah Liar"